Menembak

saat pertama dan terakhir gw menggunakan senjata api, itu waktu pelatihan dulu. Menyenangkan rasanya, karena tentunya dari dulu pernah punya angan-angan untuk melakukannya.

Yang gw inget, gw berfikir "i have, in my hand, the power to take a life". The small thing (gw make pistol buatan pindad, government issue lah :)) mayan berat di tangan. unreliable (after continuous shooting session (100 bullets, more or less), banyak yang jammed). Still, it packs quite a punch.

Menarikmya, adalah bagaimana menembak itu gak perlu eyesight yang bagus. mata gw defective at best, terakhir ke optik, minus 5 gitu… gw gak make contacts atau glasses. tapi berhasil dapet skor yang mayan.

Harus ada pembiasaan. karena gak ada senjata yang perfect. seperti di "full metal jacket" (atau tepatnya di USMC) "this is my rifle, there are many like it, but this one is mine." setiap senjata api punya karakteristiknya sendiri. hanya dengan penggunaan dan latihan yang rutin si pengguna bisa memperkirakan ke mana arah peluru. dalam kasus latihan itu, kami diberikan kesempatan tiga kali menembak, untuk bisa mengukur dan memperkirakan itu. gw kebetulan dapat pistol yang pelurunya bergerak ke kiri bawah. jadi gw adjust fisirnya ke kanan atas.

Ini yang membuat para penembak jitu itu luar biasa. di saat gw punya seluruh magazine untuk dihabiskan ke arah target gw, dia hanya perlu (dan harus) menggunakan satu peluru.

Leave a Reply