Kecap, Saus, dan Sambal

Kecap, Saus dan (Saus) Sambal, pernak-pernik meja makan yang tidak pernah absen di restoran/tempat makan di Indonesia. Baik dari restoran makanan continental, oriental, gerai fast food, pinggir jalan, sampai di dalam rumah.

Gw pribadi memilih untuk tidak menggunakan ornamen tersebut, dengan pemikiran akan merusak cita rasa yang sudah disiapkan sang peracik makanan. Kalau sang peracik merasa sajiannya harus ditambahkan kecap, saus, atau sambal, niscaya dia akan menyajikannya lengkap dengan kecap, saus, atau sambal yang telah sesuai takaran yang seharusnya.

Pemikiran yang sama membawa gw ke sebuah pengharapan, bahwa ketika suatu saat nanti gw memasak, gw gak mau penikmat masakan gw meminta untuk menambahkan kecap, saus, atau sambal, karena artinya, masakan gw gak enak, dan harus ditambahkan ornamen-ornamen tersebut untuk membuatnya mampu melewati indra pengecap (membypass rasa seharusnya dengan memasukkan rasa ekstrem, asin, manis, atau pedas).

Kecap, Saus, dan Sambal di pemikiran gw, bisa disamakan dengan Mono Sodium Glutamat, atau vetsin. yang bukannya berfungsi sebagai penyedap rasa, melainkan pencampur/perusak rasa.

5 Responses to “Kecap, Saus, dan Sambal”

  1. iKe Says:

    Yah..begitulah War…namanya juga orang Indonesia. ga bisa jauh2 dari yang namanya “bumbu”. Aku rasa sih itu semacam “matter of habit” aja…

  2. Ame Says:

    gw setubuh..ehh..setuju sm pemikiran kalo itu akan merusak citarasa asli. Meskipun tersinggung, gw lebih suka liat laki gw makan dengan ditambah ornamen2 tadi daripada dia gak napsu makan hehehe… itulah pengorbanan istri, hiks..hiks..

  3. No MaD Says:

    indra Pengecap setiap orang berbeda, terkadang mereka suka yg pedas,kadang ad yg ngga suka pedas…sebagian suka asin dan sebagian lagi ngga suka asin…memang ini sedikit menyakitkan untuk si “pemasak” melihat para “penyantap” menambahkan ornamen2 tersebut kedalam makanan tapi…apa boleh buat itu resiko menjadi seorang pemasak yg bisa menilai hanyalah “penyantap”

    (ini cuma opini lho…g ada yg salah dan g ada yg bener, cuma fandy suka ajah baca2 blok nya mas anwar dan sedikit nimbrung di comment box…)

  4. Fajar Says:

    Pemasak memasak dengan niat buat makanan yang enak secara generik. Pastinya seorang pemasak yang tulus niatnya, sadar bahwa ada orang-orang tertentu yang punya “preferensi” khusus dalam memakan (manis, asin, pedes, dsb).
    Kalau pemasaknya belum bisa tulus menerima bahwa orang akan menambahkan sesuatu sesuai dengan preferensi masing-masing, sebaiknya ia tidak menyediakan penambah selera tersebut sama sekali atau memasak langsung sesuai dengan preferensi orang yang akan menikmati makanannya atau membuat makanan maha enak yang tidak akan ada orang yang menikmatinya merasa perlu menambahkan apa pun juga.
    This might possibly analogous with one’s attitude to relationship, no? Fidelity? Passive-aggressive? Adjustor/Conformist? Ubermensch/Great Person complex?

  5. Vini Says:

    wow….i agree with all the above….

    pertama kali aku tinggal di jepang, aku rasa makanan sini gak ada rasane semua…waktu aku bilang kalo makan harus ada sambel, mereka malah bilang kalo gitu semua makanan rasane sama, pedes hauhauhauhauha…..

    sesudah setaon lebih di sini, aku baru tau, setiap makanan itu ternyata ada rasane!!!! dan waktu aku makan sambel, aku gak bisa rasa rasane makanan but pedes huahauhuahua though i still LOVE chilli….

    tapi bener, bumbu2 itu ngilangno rasa asli makanan.

    but to say which one is good or better, we have to go back to individual`s preference :)

Leave a Reply