Archive for January, 2007

Treo at last.

Monday, January 29th, 2007

Gw mulai tertarik sama yang namanya palm powered devices sejak jaman dahulu kala (2000 awal kali yah?) Bolak balik mondar mandir di depan gerai toko yang ngejual handspring visor. Waktu itu harganya comparable dengan Nokia 8210, tapi tetep aja gak kebeli sama gw (keburu beli Nokia 6210).

Dari 6210 gw akhirnya pindah ke 6230i. meski sempet mendua dengan Nokia 7110. Ternyata meskipun fitur-fiturnya oke… gw simply out of luck dengan 6230i itu. Banyak banget masalahnya (yang tidak terselesaikan, huh). Akhirnya ditambahin Dell Axim X3i+ dengan pertimbangan yang pernah gw tulis sebelumnya.

Gak berapa lama make X3i+ paired with Ericsson T39m (selagi 6230i ganti mesin), denger dari Mas Didik, kalo Palm itu makenya gampang banget, jauh kalo dibandingkan dengan PPC devices. Hemm… jadi inget treo. Memang belum pernah pegang langsung, cuman inget Bang Ronal pernah make (Treo 600 atau 650 ya Bang?).

Berapa kali bolak-balik en muter-muter di ambassador, sempet ketemu dengan used treo 650… mulus… harganya juga reasonably priced. tapi ya belum ada budget.

Sampe turning point-nya, N6230i nya bener-bener nyebelin… Cuma masalah lain timbul. 3G! Pilihan makin berkembang. Sempet pengen make E61, cuma ketiadaan kameranya itu bener-bener ngganggu. M600i, wah… cakep sih iya… cuman ya itu… cameraless en memory stick nya mahal abbesssh. Treo? Wah, yang 3G enabled masih kisaran 6 juta. Belum berani.

Akhirnya setelah ngobrol sama Jane, Dandy, Wulan, n Luke. Akhirnya kuputuskan untuk make Treo 650 :) Harga bekasnya sih udah mayan turun sejak masuknya Treo 680. Plus I’ve got a pretty good deal. jadi gak begitu sakit rasanya :)

Transisi dari NokiaOS + WM2003SE menjadi PalmOS cukup mudah. Yang harus diingat adalah PalmOS gak multitasking (mirip sama NokiaOS).

Pengalaman gw make Treo 650 selama dua minggu (kayaknya :))) menyenangkan. Baterenya tahan lama: beda banget sama N6230i gw… huh. even compared to the X3i+, the treo is still the winner. Make X3i+ untuk online dengan agile mobile hanya kuat untuk dua jam. sementara treo 650 yang sudah dipakai selama 2 jam online pake mundu, berkali-kali narik e-mail, usual quota of texting and calling, saat ini (17 jam dari gw cabut dari listrik) masih tersisa 35% power lagi). Layar yang jauh lebih besar tapi resolusi yang sama. Kamera yang hasilnya comparable, meski "hanya" VGA. Full qwerty thumbboard.

Pengaturan untuk e-mailnya sangatlah mudah. Gw baru make bawaannya, "versamail", dan dalam sekejap sudah bisa kirim dan tarik dari CBN dan Gmail. Jadi inget pengalaman setting e-mail di E61 (Hai Dan :D). Konek GPRS juga mudah banget… apa karena gw make XL yah? Kemaren nyobain setting di N6280 dan N9500 sama-sama ribet dan gak sukses (apa karena make indosat? ;)).

Ketiadaan WIFi bukanlah sesuatu hal yang penting bagi gw. X3i+ WiFi enabled, tapi ya masih sangat jarang hotspot di Indonesia ini. apalagi yang gratis. Alhasil, hampir gak pernah gw make WiFi.

Sekarang lagi nunggu perkembangan terbaru… untuk blackberrying di treo 650. apakah mungkin terjadi? Salah satu alasan gw milih Treo 650 adalah blackberry connectivity lewat "blackberry connect". Tapi tampaknya XL belum mengijinkannya. Oh well… harus pake alternatif lain tampaknya untuk push-mail.

So, Treo at last. dan gw pikir (saat ini), kalo gw ganti handset setelah ini, sepertinya gak akan jauh dari Treo (kalau nambah sih ya bisa aja keluaran lain… RIM kali yah ;))

Kecap, Saus, dan Sambal

Wednesday, January 10th, 2007

Kecap, Saus dan (Saus) Sambal, pernak-pernik meja makan yang tidak pernah absen di restoran/tempat makan di Indonesia. Baik dari restoran makanan continental, oriental, gerai fast food, pinggir jalan, sampai di dalam rumah.

Gw pribadi memilih untuk tidak menggunakan ornamen tersebut, dengan pemikiran akan merusak cita rasa yang sudah disiapkan sang peracik makanan. Kalau sang peracik merasa sajiannya harus ditambahkan kecap, saus, atau sambal, niscaya dia akan menyajikannya lengkap dengan kecap, saus, atau sambal yang telah sesuai takaran yang seharusnya.

Pemikiran yang sama membawa gw ke sebuah pengharapan, bahwa ketika suatu saat nanti gw memasak, gw gak mau penikmat masakan gw meminta untuk menambahkan kecap, saus, atau sambal, karena artinya, masakan gw gak enak, dan harus ditambahkan ornamen-ornamen tersebut untuk membuatnya mampu melewati indra pengecap (membypass rasa seharusnya dengan memasukkan rasa ekstrem, asin, manis, atau pedas).

Kecap, Saus, dan Sambal di pemikiran gw, bisa disamakan dengan Mono Sodium Glutamat, atau vetsin. yang bukannya berfungsi sebagai penyedap rasa, melainkan pencampur/perusak rasa.