TOEFL
TOEFL, kependekan dari Test Of English as a Foreign Language (jangan tanya gw kenapa "of" masuk ke kependekan, sedang "as" dan "a" nya nggak).
Sering disalah sebut jadi TOEFL test, atau tes TOEFL. yah, bagi yang sudah tingkat SMA, insya Allah sudah familiar dengan "ujian" ini, entah untuk iseng aja, atau untuk ngelamar kerja, atau untuk ngelamar sekolah.
Lucunya, bagi gw setidaknya, dengan banyaknya lembaga-lembaga yang menawarkan kursus untuk persiapan TOEFL, dan banyaknya buku-buku dan training softwares untuk "mempersiapkan" calon peserta untuk menghadapi tes sejatinya, maka esensi dan maksud dari TOEFL itu sudah tak lagi tercapai.
TOEFL seharusnya dan dimaksudkan untuk mengkuantifikasi kemampuan seseorang dalam berbahasa Inggris. nilai maksimum kalo gak salah 670 (paper based). kalo udah kisaran 550 an, udah gak mengalami kesulitan berarti dalam mengikuti pembicaraan dalam bahasa Inggris. Kalau gw gak salah, dulu banget, untuk menjadi tenaga pengajar di LIA, skor TOEFL-nya sekira 500 an (CMIIW).
Nah, kalau seseorang telah mempelajari mengenai cara-cara menjawab soal-soal yang diajukan, maka dia akan menjawab bukan atas dasar pemahamannya, tetapi atas dasar "rumus-rumus" yang dimilikinya. sebelas dua belas lah sama "cara cepatnya" bimbingan belajar. Dan hasilnya, bukannya skor TOEFL mencerminkan pemahaman seseorang terhadap bahasa Inggris, tetapi mencerminkan persiapan yang ditempuhnya.
July 3rd, 2006 at 5:37 am
i think its okay war….i mean…the words they use in toefl are not everyday common words anyways, and even native may not be able to pass it…so…hehehehe
July 6th, 2006 at 4:52 am
Masih mending F nya disebut juga. Kalo gak jadi TOEL dong.
Tapi gw setuju dg pendapat lo. Asal sudah terbiasa dengan model2 soal latihan TOEFL kayaknya emang skornya bakal bagus. Persis kayak latihan soal UMPTN/SPMB.
Mungkin lain jadinya kalo ada Writing Test.