Tujuan: Bandung (Vol. 2)
26 Maret 2006.
Hari itu juga gw terbangun jam 4 pagi. Hmm…
nantilah… nunggu ngebangunin Putri-putri jam 6-an. Karena rencananya kami
akan bergerak dari rumah Astrid menuju pemandian air panas jam 7 pagi. Jam 6.30
baru gw bangunin mereka. Langsung disuguhi sarapan yang sudah disiapkan Mamanya
Achiet. Gw juga belajar sesuatu, perbedaan antara Tahu Jakarta dengan Tahu
Bandung.
Bergantianlah kami mandi dan sarapan serta
siap-siap untuk melanjutkan petualangan. Tujuan yang dibahas kali ini over
breakfast adalah THR Juanda, Braga, Lembang, dan lain-lain.
Hari itu dimulai dengan kunjungan ke Primarasa
Kemuning. Membeli oleh-oleh yang menarik perhatian air liur (lho?). Puas
menghabiskan tabungan di sini, kami berpindah ke toko yang sering gw kunjungi,
tapi gak banyak pengunjungnya (old school deh), Toko Kue Abadi (di belakangnya
Holiday Inn Dago). Di sini kita juga membeli oleh-oleh jenis lain. Merasa cukup
dengan perolehan, kami beringsut ke arah Cihampelas, ke Premier Plasa untuk
ketemu dengan Adiknya Yuri. Yang menarik, di radio mobil yang berkumandang
adalah lagu Jepang (entah apa judulnya) ketika kita sedang parkir. Begitu
keluar dari mobil, disambut kumandang lagu Jepang lain dari loudspeaker
toko-toko di Cihampelas, masuk ke Premier Plasa dan disambut lagi dengan
“Kokoro no Tomo” nya Mayumi Itsuwa dan Delon Idol, hihihihi.
Dari Premier Plaza kami ke toko Ban langganannya
Yuri. Beli satu buah ban pengganti, tapi karena model lama, dan dia gak ready
stock, jadi janjian nanti gw kembali lagi untuk instalasinya. Transaksi
selesai, kami menuju tujuan photo session selanjutnya, Vila Istana Bunga.
Di perjalanan menuju Vila Istana Bunga ini mulai
ditemui kemacetan-kemacetan, tapi relatif lancar. Sempet belok dikit karena
melihat papan iklan wahana permainan yang tampak menyenangkan (grass skating,
bungee trampoline, gitu-gitu lah) di salah satu perumahan di daerah sana.
Ternyata baru sekedar angan-angan. Wong perumahannya aja belum jadi. Huh. Di
Vila Istana Bunga, pemandangannya standar, Kafe Bunganya belum buka, jadi ya
kita manfaatkan untuk foto-foto dikit. Adis sama Astrid gak mau gw ajak trespassing,
jadi ya kita foto di tempat umumnya saja. Untuk bisa masuk ke kawasan ini,
mesti mbayar IDR 2000.
Puas foto-foto, dan diiringi rasa lapar yang mulai
menggayut, kami menuju Lembang (dari istana bunga, turun, ketemu pertigaan
ambil yang kiri). Ada dua alternatif tujuan makan, RM Brebes, atau Susu Murni
(SuMur). Pilihan jatuh ke RM Brebes. Setelah memutar satu lap, akhirnya kami
dapat parkir di lahan kosong seberang RM Brebes. Acara makan siang yang
diselingi bergunjing (atau sebaliknya?) diakhiri oleh cuci tangan bersama (apa
seh…). Karena ada time constraint (mesti ke toko ban sebelum jam setengah
lima), kami gak melanjutkan perjalanan ke Tangkuban Perahu, kami kembali ke
arah Bandung. Tapi gak lebih dari 10 menit seusai makan siang, kami berhenti
lagi untuk makan. Menu kali ini, Sate Kelinci. Bukan di tempat makan terkenal,
tapi di warung acak pinggir jalan. Rasanya lucu. Kami cuma pesan satu porsi, 10
tusuk, IDR 10.000. Adis 2, Astrid 3, Gw 5, hehhehehe.
Perhentian selanjutnya, toko ban. Sekitar jam
14.30. Sembari menunggu instalasi ban tersebut, kami menyeberang ke toko “39”
Cihampelas, niatnya untuk beli cinderamata, tapi ternyata tutup. Lalu mampir ke
Gonzo, hmm… panas, isinya pernak-pernik Anime (didominasi Naruto) dan J-Pop. Pengunjungnya tampak setingkat SMA, dan
berisik bin heboh kalo udah nonton artis kesayangan di layar kaca… alah…
Usai urusan dengan ban, kami menuju ke kafe
Victoria Dipati Ukur. Ini adalah kali kedua gw ke tempat ini. Hmm… gak banyak
berbeda. Yang lucu ada tulisan “Terima Kasih Anda Tidak Belajar Di Tempat Ini”.
Hihihi… bertentangan dengan UUD 1945 nih. Selesai foto-foto dan ngobrol
haha-hihi, kami menuju ke Selasar Sunaryo. (mulai kebayang kan rute
perjalanannya?) sambil memesan Batagor Kingsley (Jl. Veteran) melalui telefon.
Selasar Sunaryo di Dago atas juga nih… khusus
untuk kami, dibukakan tempat parkir khusus (sebenarnya karena tempat parkir
utama penuh sih). Foto-fotoan juga… dan menikmati kopi atau teh yang
disajikan. Menurut Adis, yang enak dan mantap itu Latte Macchiato (yang gak ada
dalam menu). Suasananya bagus, oke tuh buat pacaran, dan lagi ada siaran Rase
di situ. Untuk foto-foto dalam galeri, mesti dapet ijin dari managernya.
Berhubung gw males dan gak pengen mengulang tragedi Shangri-La, jadi niat untuk
berfoto di galeri diurungkan.
Usai dari Selasar, kita ke Bandung Trade Center di Pasteur.
Niatannya untuk bikin cutting sticker. Sedikit bermacet ria, tapi dapet parkir
juga. Tokonya ketemu dan ada, tapi gw gak bisa bikin desain yang gw pengen,
karena gak ada hurufnya, dan gw gak bawa soft copynya. Oh well. Cuman Adis sama
Astrid aja yang akhirnya bikin. Usai dari BTC kan kita mau ke Veteran untuk
ambil pesanan batagor, tapi ternyata hanya dua dari tiga orang dalam mobil yang
punya pikiran tersebut. Sedang satu orang yang menunjukkan jalan, mempunyai
pikiran berbeda untuk kembali ke rumahnya. Udah kebayang dong siapa oknum
tersebut?
Jadi udah Adis nahan-nahan keinginannya untuk
mundur (ke belakang maksudnya, hehehe), begitu kita nyampe depan hotel Horizon (kita
lewat tol dari Pasteur, keluar Moh Toha atas petunjuk Astrid), barulah Astrid
sadar kalo kita mau ke Veteran. Hohohoho. Walhasil Adis mesti memperlama dan
memperkuat pertahanannya. Tapi akhirnya kami sukses kok untuk mencapai Kingsley
tanpa insiden berarti, hehehe. Sementara itu radio di mobil gw ternyata tuned
ke 87.7 HRFM BDG, dan Dita lagi siaran (Hai Dit!). Lucu juga udah lama gak
denger siarannya.
Urusan selesai di Kingsley, dan seusai ngedrop
Astrid di rumahnya (Astrid kembali ke Jakarta Minggu pagi), Gw dan Adis memulai
perjalanan kembali ke Jakarta dari gerbang Tol Buah Batu, dengan diantar oleh
Dita melalui radio. hehhehehe. Jam 20.01 kami ada di gerbang tol Cimahi/Pasteur
dan terus melaju dengan satu kali berhenti peristirahatan untuk mengurangi
kerja kandung kemih.
Dalam perjalanan ini sempet nyoba “blind attack”
nya Takumi Fujiwara, hehehe… Ternyata Vitara ’93 gw kecepatan maksimumnya
hanya 120 kpj (speedometer) di 4500 rpm. Itu juga udah susah payah. Cipularang
arah Jakarta kondisi jalannya jauh lebih buruk ketimbang arah Bandung. Bergelombang
dan bolong-bolong. Dasar proyek mercu suar.
Alhamdulillah, gw tiba di rumah sekira jam 22.30, setelah isi bensin
dan nganter Adis ke rumahnya.
Rencana perjalanan selanjutnya: Tujuan: Dieng!
See you again!
PS: Berikut ada catatan yang ditulis oleh Astrid
di file gw, gw sampaikan tanpa suntingan:
Anwar-san itu demen bgt ngasih info yg
menyesatkan…
Dgn menggantung2kan jawaban + penyampaian pesan yg
suka di edit sendiri..
KIRA-KIRA!!!
Jgn slhin gw ma adis yg srg miskom donk!! Slh lo
jg seh!!