Archive for May, 2006

Review: X-men: The Last Stand

Sunday, May 28th, 2006

Sinopsis: Homo Sapiens menemukan "obat" untuk menekan gen-x di Homo Superior. Brotherhood of (Evil) Mutants-nya Magneto tidak menerima hal ini, dan mendeklarasikan perang terhadap Homo Sapiens. X-Men berusaha mencegah upaya Brotherhood.

Ulasan: Hmm… mengecewakan. tidak sesuai dengan harapan gw. Bayangkan, ada karakter-karakter menarik yang muncul seperti Phoenix, Angel, dan Colossus tapi tak bisa diolah dengan baik, apa karena Singer digantikan oleh Radner(?).

Awalnya gw pikir bakal ada Apocalypse karena ada Angel atau Stryfe karena ada "virus". Tapi ternyata bukan… masih tetap Brotherhood vs. X-Men. Phoenix di film ini merupakan split personality dari Jean Grey, bukannya entitas asing. Emm, gitu deh… Seharusnya bisa lebih baik.

Memang, gw sadar bahwa seperti biasa ada deviasi antara komik dengan film. Bagi yang gak ngikutin komiknya, film ini masih bisa diterima.

Iseng: Stan Lee muncul lagi secara cameo di scene awal (orang yang menyiram halaman), waktu Magnus dan Xavier mengunjungi Jean kecil.

Tujuan: Bandung (Vol. 2)

Saturday, May 27th, 2006

26 Maret 2006.

Hari itu juga gw terbangun jam 4 pagi. Hmm…
nantilah… nunggu ngebangunin Putri-putri jam 6-an. Karena rencananya kami
akan bergerak dari rumah Astrid menuju pemandian air panas jam 7 pagi. Jam 6.30
baru gw bangunin mereka. Langsung disuguhi sarapan yang sudah disiapkan Mamanya
Achiet. Gw juga belajar sesuatu, perbedaan antara Tahu Jakarta dengan Tahu
Bandung.

Bergantianlah kami mandi dan sarapan serta
siap-siap untuk melanjutkan petualangan. Tujuan yang dibahas kali ini over
breakfast
adalah THR Juanda, Braga, Lembang, dan lain-lain.

Hari itu dimulai dengan kunjungan ke Primarasa
Kemuning. Membeli oleh-oleh yang menarik perhatian air liur (lho?). Puas
menghabiskan tabungan di sini, kami berpindah ke toko yang sering gw kunjungi,
tapi gak banyak pengunjungnya (old school deh), Toko Kue Abadi (di belakangnya
Holiday Inn Dago). Di sini kita juga membeli oleh-oleh jenis lain. Merasa cukup
dengan perolehan, kami beringsut ke arah Cihampelas, ke Premier Plasa untuk
ketemu dengan Adiknya Yuri. Yang menarik, di radio mobil yang berkumandang
adalah lagu Jepang (entah apa judulnya) ketika kita sedang parkir. Begitu
keluar dari mobil, disambut kumandang lagu Jepang lain dari loudspeaker
toko-toko di Cihampelas, masuk ke Premier Plasa dan disambut lagi dengan
“Kokoro no Tomo” nya Mayumi Itsuwa dan Delon Idol, hihihihi.

Dari Premier Plaza kami ke toko Ban langganannya
Yuri. Beli satu buah ban pengganti, tapi karena model lama, dan dia gak ready
stock, jadi janjian nanti gw kembali lagi untuk instalasinya. Transaksi
selesai, kami menuju tujuan photo session selanjutnya, Vila Istana Bunga.

Di perjalanan menuju Vila Istana Bunga ini mulai
ditemui kemacetan-kemacetan, tapi relatif lancar. Sempet belok dikit karena
melihat papan iklan wahana permainan yang tampak menyenangkan (grass skating,
bungee trampoline, gitu-gitu lah) di salah satu perumahan di daerah sana.
Ternyata baru sekedar angan-angan. Wong perumahannya aja belum jadi. Huh. Di
Vila Istana Bunga, pemandangannya standar, Kafe Bunganya belum buka, jadi ya
kita manfaatkan untuk foto-foto dikit. Adis sama Astrid gak mau gw ajak trespassing,
jadi ya kita foto di tempat umumnya saja. Untuk bisa masuk ke kawasan ini,
mesti mbayar IDR 2000.

Puas foto-foto, dan diiringi rasa lapar yang mulai
menggayut, kami menuju Lembang (dari istana bunga, turun, ketemu pertigaan
ambil yang kiri). Ada dua alternatif tujuan makan, RM Brebes, atau Susu Murni
(SuMur). Pilihan jatuh ke RM Brebes. Setelah memutar satu lap, akhirnya kami
dapat parkir di lahan kosong seberang RM Brebes. Acara makan siang yang
diselingi bergunjing (atau sebaliknya?) diakhiri oleh cuci tangan bersama (apa
seh…). Karena ada time constraint (mesti ke toko ban sebelum jam setengah
lima), kami gak melanjutkan perjalanan ke Tangkuban Perahu, kami kembali ke
arah Bandung. Tapi gak lebih dari 10 menit seusai makan siang, kami berhenti
lagi untuk makan. Menu kali ini, Sate Kelinci. Bukan di tempat makan terkenal,
tapi di warung acak pinggir jalan. Rasanya lucu. Kami cuma pesan satu porsi, 10
tusuk, IDR 10.000. Adis 2, Astrid 3, Gw 5, hehhehehe.

Perhentian selanjutnya, toko ban. Sekitar jam
14.30. Sembari menunggu instalasi ban tersebut, kami menyeberang ke toko “39”
Cihampelas, niatnya untuk beli cinderamata, tapi ternyata tutup. Lalu mampir ke
Gonzo, hmm… panas, isinya pernak-pernik Anime (didominasi Naruto) dan J-Pop. Pengunjungnya tampak setingkat SMA, dan
berisik bin heboh kalo udah nonton artis kesayangan di layar kaca… alah…

Usai urusan dengan ban, kami menuju ke kafe
Victoria Dipati Ukur. Ini adalah kali kedua gw ke tempat ini. Hmm… gak banyak
berbeda. Yang lucu ada tulisan “Terima Kasih Anda Tidak Belajar Di Tempat Ini”.
Hihihi… bertentangan dengan UUD 1945 nih. Selesai foto-foto dan ngobrol
haha-hihi, kami menuju ke Selasar Sunaryo. (mulai kebayang kan rute
perjalanannya?) sambil memesan Batagor Kingsley (Jl. Veteran) melalui telefon.

Selasar Sunaryo di Dago atas juga nih… khusus
untuk kami, dibukakan tempat parkir khusus (sebenarnya karena tempat parkir
utama penuh sih). Foto-fotoan juga… dan menikmati kopi atau teh yang
disajikan. Menurut Adis, yang enak dan mantap itu Latte Macchiato (yang gak ada
dalam menu). Suasananya bagus, oke tuh buat pacaran, dan lagi ada siaran Rase
di situ. Untuk foto-foto dalam galeri, mesti dapet ijin dari managernya.
Berhubung gw males dan gak pengen mengulang tragedi Shangri-La, jadi niat untuk
berfoto di galeri diurungkan.

Usai dari Selasar, kita ke Bandung Trade Center di Pasteur.
Niatannya untuk bikin cutting sticker. Sedikit bermacet ria, tapi dapet parkir
juga. Tokonya ketemu dan ada, tapi gw gak bisa bikin desain yang gw pengen,
karena gak ada hurufnya, dan gw gak bawa soft copynya. Oh well. Cuman Adis sama
Astrid aja yang akhirnya bikin. Usai dari BTC kan kita mau ke Veteran untuk
ambil pesanan batagor, tapi ternyata hanya dua dari tiga orang dalam mobil yang
punya pikiran tersebut. Sedang satu orang yang menunjukkan jalan, mempunyai
pikiran berbeda untuk kembali ke rumahnya. Udah kebayang dong siapa oknum
tersebut?

Jadi udah Adis nahan-nahan keinginannya untuk
mundur (ke belakang maksudnya, hehehe), begitu kita nyampe depan hotel Horizon (kita
lewat tol dari Pasteur, keluar Moh Toha atas petunjuk Astrid), barulah Astrid
sadar kalo kita mau ke Veteran. Hohohoho. Walhasil Adis mesti memperlama dan
memperkuat pertahanannya. Tapi akhirnya kami sukses kok untuk mencapai Kingsley
tanpa insiden berarti, hehehe. Sementara itu radio di mobil gw ternyata tuned
ke 87.7 HRFM BDG, dan Dita lagi siaran (Hai Dit!). Lucu juga udah lama gak
denger siarannya.

Urusan selesai di Kingsley, dan seusai ngedrop
Astrid di rumahnya (Astrid kembali ke Jakarta Minggu pagi), Gw dan Adis memulai
perjalanan kembali ke Jakarta dari gerbang Tol Buah Batu, dengan diantar oleh
Dita melalui radio. hehhehehe. Jam 20.01 kami ada di gerbang tol Cimahi/Pasteur
dan terus melaju dengan satu kali berhenti peristirahatan untuk mengurangi
kerja kandung kemih.

Dalam perjalanan ini sempet nyoba “blind attack”
nya Takumi Fujiwara, hehehe… Ternyata Vitara ’93 gw kecepatan maksimumnya
hanya 120 kpj (speedometer) di 4500 rpm. Itu juga udah susah payah. Cipularang
arah Jakarta kondisi jalannya jauh lebih buruk ketimbang arah Bandung. Bergelombang
dan bolong-bolong. Dasar proyek mercu suar.

Alhamdulillah, gw

tiba di rumah sekira jam 22.30, setelah isi bensin
dan nganter Adis ke rumahnya.

Rencana perjalanan selanjutnya: Tujuan: Dieng!

See you again!

PS: Berikut ada catatan yang ditulis oleh Astrid
di file gw, gw sampaikan tanpa suntingan:

Anwar-san itu demen bgt ngasih info yg
menyesatkan…
Dgn menggantung2kan jawaban + penyampaian pesan yg
suka di edit sendiri..
KIRA-KIRA!!!
Jgn slhin gw ma adis yg srg miskom donk!! Slh lo
jg seh!!

Tujuan: Bandung (vol. 1)

Saturday, May 27th, 2006

Kamis kemarin gw bareng Adis (Hai Dis!) dan Astrid
(Hai Chiet!) akhirnya melakukan perjalanan bareng ke Bandung. Tujuan ini
merupakan hasil kompromi antara kami bertiga, tujuan-tujuan lain yang akhirnya
tidak dipilih untuk saat ini adalah Tanjung Lesung, Ujung Kulon, Anyer, dan
Lampung.

Bandung dipilih bukan hanya karena lokasinya yang
gak begitu jauh, tapi juga karena keakraban kami dengan kota Bandung dan
sekitarnya (minimal kami pernah tinggal 6 bulan di kota Bandung: Adis hampir
satu tahun (on and off), Gw 10 tahun (on and off), Astrid 23 tahun (on)).
Semangat kami untuk bepergian kali ini adalah Wisata Modelling dan Wisata
Kuliner.

Lokasi pemotretan pertama adalah: Kawah Putih,
Ciwidey.

Kami berangkat dari Jakarta tanggal 24 Mei 2006.
Titik awal perjalanan, pompa bensin Shell di Warung Buncit. Proses pengisian
bensin yang mestinya cepat, ternyata harus terhambat sedikit karena transaksi
dengan kartu kredit melalui terminal Bank Permata tidak berjalan mulus,
sehingga harus pembayaran offline.

Usai memenuhi bensin di mobil (07.00), Gw dan Adis
meluncur ke arah Bandung untuk keluar tol sejenak di Pondok Gede, bertemu
dengan Astrid yang diantar Yuri (Hai Yuri!), lalu langsung perjalanan non-stop
ke Bandung melalui Cipularang. Karena masih bingung dengan bagaimana mencapai
Kawah Putih dan gak yakin dengan ingatan gw (dari kami bertiga, baru gw yang
pernah ke Kawah Putih), jadi kami bertanya-tanya dengan beberapa pihak yang
kami temui. Sebagai native speaker, Astrid yang diberikan kepercayaan sebagai
penunjuk jalan.

Dari Tol Cipularang, keluar di gerbang tol Kopo,
belok kanan ke arah Ciwidey. Arahnya sebenarnya cukup ngikutin jalan. Jadi bagi
yang mau ke Kawah Putih, jangan khawatir, jalannya cukup jelas (meskipun jauh).

Di daerah Kopo, kami berhenti sejenak untuk memenuhi
panggilan alam, sarapan dan membeli film (not necessarily in that order) di
Borma Kopo. Tempat sarapan pagi itu adalah Mie Pak Oyen, kami memesan mie
kocok, teh botol, dan es campur.

Setelah cukup puas dengan makanan dan keinginan
untuk melontarkan komentar-komentar terhadap keadaan sekitar, kami melanjutkan
perjalanan. Jauh… Jauh… Jauh sekali. Melewati Kota Soreang (Ibukota
Kabupaten Bandung), perkebunan strawberry (stroberi petik sendiri, tampaknya
petaninya malas… hihihi), Hotel Selly, terus nanjak, sampai ketemu daerah
hutan seperti Puncak. Jangan berharap banyak dengan papan penunjuk yang
mengatakan “Kawah Putih 10 km”.

Kondisi jalan yang menanjak dan rusak akan sangat
berasa di kendaraan kecil (salah satu alasan kenapa gw gak milih si Kutu Ijo
untuk perjalanan kali ini), ground clearance dari Vitara terbukti membantu
untuk mengurangi resiko kerusakan di undercarriage. Jalan sempit (hanya untuk
dua mobil saling menyalip di perkotaan, dan 1,5 mobil di daerah hutannya) yang
ada tidak dibantu dengan adanya banyak kendaraan lambat dan santai dan
menyebalkan, seperti delman, bis yang gak kuat nanjak, dan motor-motor yang
sembarangan.

Akhirnya sampai di gerbang bawah Kawah Putih. Kami
membayar tiket masuk sebesar IDR 13500 (tiga orang, satu mobil, termasuk
asuransi kecelakaan untuk orang saja). Setelah berkelak-kelok untuk mencapai
lokasi sebenarnya, Alhamdulillah kami tiba di Kawah Putih yang banyak
pengunjungnya. Kami tiba di Kawah Putih jam 11.30, 189 km dari Mampang (berdasarkan
odometer di Vitara ’93 ban gede). Cuaca yang mendukung, dingin sejuk, tak
terlalu banyak matahari telah menyambut kami.

Ketika Adis dan Astrid mengantri pipis (dan
benar-benar mengantri, dengan perhitungan gw, sekira 10 menit terpakai untuk mengantri),
gw menulis catatan perjalanan ini, dan mempersiapkan peralatan perang. Untuk
diperhatikan, tidak ada provider GSM yang mencakup daerah ini. Untuk CDMA gw
gak bisa bilang, karena provider CDMA kami sama dan tidak terpikir untuk
menyalakan handset CDMA kami yang tak bisa digunakan sejak pindah kota.

Sedikit berjalan lagi, kami disambut dengan bau
khas belerang, dan pemandangan yang surreal. Jauhnya perjalanan terbayar kontan
dengan pemandangan tersebut. Tapi sejujurnya, tampak berbeda dengan ingatan gw.
Apa karena dulu tak sebanyak itu pengunjungnya, atau memang Kawah Putih
berubah?

Sesi pemotretan berlangsung di spot terbaik untuk
maksud itu. Begitu turun tangga, mengarah ke kiri, menghadap danau dan belahan
bukit. Gak akan salah. Setelah 100 frame berlalu dan rasa jenuh dan lelah (dari
tawa tiada henti) mulai merambat, kami memutuskan untuk berpindah lokasi.

Di jalan ke arah Bandung, ternyata kami kena
musibah, ditabrak motor. Motor ojek yang membawa penumpang seorang ibu dengan
anak balita-nya itu nyalip delman yg lg uphill dan langsung berkenalan singkat
dengan mobil gw. Dia jatuh dengan sukses, tapi alhamdulillah tidak ada korban
jiwa dalam insiden tersebut. Stepnya dia nyobek ban kanan depan gw. Walhasil gw
mesti ganti ban. Untungnya (teuteup…) kejadian terjadi tepat di depan toko
ban Harapan Jaya, jadi ada yang mbantuin dalam proses pergantian ban serep. Si
tukang ojek, meski menderita kerugian karena pedalnya bengkok karena jatuh,
teuteup gak mau dan gak mampu ngganti ban gw. Oh well.

Oh ya, jalan yang downhill dan berkelak-kelok dari
kawah putih hingga soreang memang menyenangkan untuk dibawa ngebut
sebenarnya… beberapa kali terjadi controlled loss of traction, hihihihi.

Untuk lunch, kami sulit menentukan pilihan, tapi
dicoba aja ke arah Dago, niatnya untuk melanjutkan sesi pemotretan ke daerah
atas. Awalnya kami mencoba ke Erla’s tapi kok ya ndak dapet parkir, jadi ya
meneruskan perjalanan ke Wale’. Wale’ ini adalah inkarnasi terbaru dari Warung
Mpok Lela, Ma’ Lela, atau Bakso Monyet. Sempat memutar-mutar sedikit karena
penanda jalan bagi Astrid udah berubah (toko material dan tukang jual gas).
Kami makan di paruh atas, karena paruh bawah tidak diperuntukkan untuk kelompok
kecil.

Sepulang dari santap siang di Wale’, ada kejadian
aneh, nakutin, tapi juga lucu. Sekitar 200m dari Wale’ , mobil distop cewe
berbaju biru membawa tas [astrid: yg isinya: pinsil butut nan item &
kertas2 kriting kaya bungkus kacang]. Dia pengen ikut sampe cigadung.

Lah, gw kan gak tau mana itu cigadung. Tapi ya gak
apa apa gw pikir, karena memang lokasinya yang sepi angkot dan itung2 nolongin
orang (gw butuh banyak doa) toh gw bertiga. Naiklah dia di kursi belakang,
bareng Astrid. Tyt aneh.. Dia GILA!!!

[Astrid:]
Nganggep klo kita itu tmn akrab dia apa! Pake acara
minta dianterin ke cikutra, padahal kita mau ke Dago Pakar!! Udah gitu sok-sok
curhat, pake acara jangan bilang siapa-siapa klo dia itu punya sodara gila yg
mengancam keutuhan keluarga dia gt… Pls deh… Like we care!! ;p tiba2 dia
ikut-ikutan ketawa klo kita lagi ketawa, terus nanya-nanya dimana tempat kos yang
murah.. Di Jatinangor aja!! [saran anwar loh] Pake acara sok2 ngaku2 guru lg!!
Gw ga yakin dia itu guru, mgkn juga seh guru, tapi guru ilmu hitam! Udah gitu paling
gila lagi dia sempat ga mo turun, karena belum nyampe ke tujuan dia.

[Anwar:]
Jadi karena kita mau ke THR Juanda, kita mau belok
kanan nih, tapi si mbak ini bilang kalo belokannya di depan lagi (padahal
Astrid udah seyakin-yakinnya kalo belok kanan sekarang). Begitu gw belok kanan,
si mbak itu bilang “emm, mau main ya? Boleh ikutan gak? Udah terlanjur juga…”
gitu… hiiiy…

[Astrid:]
Mana begitu dia turun kita ga cek kalo kakinya
nginjek tanah ato engga huehehe suerem!!! Abis begitu kita balik ketempat
nurunin dia.. Dia dah ilang, tukang ojekpun males kali ya…

[Anwar:]
Setelah itu kami ke Cihampelas Walk, ternyata
sepi2 rame. Parkiran penuh, tapi nggak gitu rame di mall nya sendiri. Setelah
muter-muter dan liat pernak pernik yang dijajakan, kami nongkrong lama ngobrol
dan haha-hihi di Starbucks sebelum akhirnya ngantri donut di j.co.

Puas di Ciwalk, kami berpindah ke Sierra demi
meng-abuse "Enjoy 30"-nya Adis. Waktu ngeliat menunya, kok mirip dgn Tomodachi…
Tapi lebih murah. Setelah pesanannya datang, semua jelas sebabnya. Ternyata yang
di Sierra porsi kids meal! Kecil bener… Hiks hiks…

Rasa kantuk mulai menyeruak. Jahe madu panas yang
gw pesan mulai berasa dingin, dan akhirnya kami memutuskan untuk memanggilnya
malam (call it a night).

Kami menuju rumahnya Astrid untuk bermalam.
Ternyata rumah Astrid itu ada di jalan yang sering banget gw lalui… di
Turangga, depan fotokopian. [Astrid: iya, sering banget pada ngomong gitu]. Jam
23 kami tiba di rumahnya, dibukakan pintu sama Mamanya Astrid.

Nyampe rumah Astrid, gak langsung tidur, disuguhin
pudding dan kue-kue, lalu nonton Kill Bill vol. 2, dan ngobrol-ngobrol ngitung
keuntungan YM-an via GPRS ketimbang SMS. Hihihi. Jam 1 pagi baru kami pergi ke
peraduan.

Bersambung ke vol. 2

Calon Mertua

Sunday, May 21st, 2006

Hmm… Gimana rasanya ketemu dan berinteraksi sama calon mertua? susah, canggung, takut, semua berasa salah. Berinteraksi dengan mantan calon mertua? ternyata sama saja, gak beda jauh.

Gw pribadi sih seneng-seneng aja, main ke rumahnya, diterima sebagai seorang teman yang pernah lebih dari seorang teman dari anaknya. Ngobrol panjang lebar dengan sang mantan calon mertua (hmm, sebenernya beliau yang banyak cerita, gw masih belum mengembangkan keahlian berbicara lisan), makan malam bersama, yah… hal-hal yang dulu pernah sering gw lakukan.

Dulu gw sering berinteraksi dengan beliau-beliau itu. Gw berasa relaxed sebenarnya, karena somehow gw berasa nyambung lebih dari biasanya. Tapi seberapa seringpun gw ngelakuinnya, tetep berasa lucu… gw seneng, tapi di saat yang sama, canggung. Dari bakal calon mertua, calon mertua, hingga sekarang mantan calon mertua, gw masih ngerasa hormat sama mereka, tak berkurang.

review: the davinci code, the movie

Friday, May 19th, 2006

Seperti yang udah gw tulis sebelumnya, gw baru baca bukunya. gak begitu mencengangkan. tapi it’s okay lah untuk menghabiskan waktu.

Nah, malam ini, di hari pertama peluncurannya di Indonesia, atas jasa baik dari Adis (Hai Dis!) dan Astrid (Hai Chiet!), bersama dengan beberapa teman gw nonton film ini di Djakarta Theatre.

I’ve committed the ultimate sin, gw tidur di dalam bioskop… Mon Dieu... filmnya parah! The book is not that good to begin with, tapi film ini bener-bener parah… ada hal-hal kecil dan BESAR yang salah di film ini. Semangat dari bukunya gak bs gw dapetin di filmnya.

Yang gw notice banget, adalah posisi/pendirian Langdon. Di buku, Langdon is a believer, setidaknya dia well versed in the realm of Holy Grail. Di film, Langdon adalah seorang skeptis, yang ragu-ragu dalam pendiriannya, sama sekali gak tampak sebagai seorang peneliti.

Casting dan penokohannya nya juga parah… Awalnya gw gak tau kalo Jean Reno ikutan di film ini, sayang gak dimanfaatkan. Reno sama sekali bukanlah sosok Fache di pikiran gw. Dan Langdon? di bukunya jelas-jelas disebutkan dia mirip Harrison Ford, tapi kok ya malah Tom Hanks? hmmh… Ian McKellen (kalo gak salah) juga jauh dari image yang diberikan Sir Teabing. aaarghh…

OIA, penerjemah film ini gw rasa dibayar setengah, setiap pembicaraan yang menyatakan Jesus itu manusia gak diterjemahkan. Ayolah… realistis, film ini kan dari international bestseller, yang laku keras pula di Indonesia. kok ya masih mau berkelit dari ceritanya. huh.

Intinya, tunggu di DVD aja seh… kalo masih penasaran. jangan sampe ngantri2 di bioskop, bayar mahal-mahal, eeh… malah misuh-misuh di luarnya (kecuali ditraktir… kayak gw gini, hihihihi).

review: Tabungan Pendidikan Bank BNI

Monday, May 15th, 2006

Hmm… tadi gw berniat untuk membuka tabungan tersebut. ceritanya untuk persiapan masa depan (dan juga diilhami oleh Jane (Hai Jane!)).

Walhasil seusai jam rehat, gw ama Jane turun ke Bank BNI. Jane berbekal buku tabungan dan fotokopi KTP, gw dengan nomor rekening dan KTP asli. Nunggu sebentar, ditemui oleh CSO  yang mas-mas.

setelah mengisi formulir (yang diambil cukup lama) selama beberapa lama, ternyata kami berdua terbentur dengan isian "benefactor", pilihannya suami/istri atau anak. hmm… secara kami belum menikah dan belum punya anak. Muncul pertanyaan, apa bisa diisi dengan nama masing2? atau Jane dengan nama gw, dan gw dengan nama Jane.

Ternyata tidak bisa! Pusing gw… jadi biar sudah menikah pun, harus punya anak… hiks hiks hiks. susah nih. Patah lah semangat gw untuk menabung demi anak cucu nanti, setidaknya untuk minggu ini. Nanti lah gw liat di bank-bank lain (tampaknya di BCA gak ada kayak beginian nih, setidaknya di websitenya gak ada.)

review: Dan Brown’s Da Vinci Code

Sunday, May 14th, 2006

Akhirnya, setelah satu tahun berlalu (kira-kira) gw baca juga tuh tulisan (memang gak gw tulis buku, karena gw gak baca dalam bentuk buku "buku").

Setelah banyak orang bilang bagus ceritanya, dan puja puji lainnya. kok setelah gw sampai akhir ceritanya gw cuman bilang "terus?" bukunya kosong… Gak banyak hal yang baru dari buku ini dari segi cerita dan alur. Standar… plot twists yang ada ya biasa.

Cerita ini jadi menarik karena "teori-teori" yang dibawanya. Coba, minus teori cover ups oleh Vatikan dalam buku itu, apa banyak yang bakal tertarik membaca tulisannya? Banyak yang membeli/membaca karena hanya ingin mengkaji apa isinya, tapi berapa persen dari orang-orang itu yang melakukan tindak lanjut? Membaca buku-buku lainnya tentang cawan suci? Berapa yang menerima mentah-mentah.

Well, Dan Brown’s Da Vinci Code adalah karya fiksi. Itu yang gw dapet dari mbaca tulisannya. Dan bukanlah fiksi yang sangat bagus.

usulan peraturan jalan raya

Wednesday, May 10th, 2006

Gw punya pemikiran, bagaimana kalau di UU jalan raya (ato apalah…) ada pasal yang menyebutkan:

"apabila terdapat kecelakaan/pelanggaran peraturan di jalan raya yang melibatkan motor, maka yang salah otomatis pengendara motor tersebut"

fiuh… gw yakin seyakin-yakinnya maka tingkat kecelakaan di jalan raya akan menurun dengan drastis. Karena dengan adanya aturan tersebut, maka pengguna jalan raya yang paling banyak dan paling sembrono di masa ini akan lebih berhati-hati. tak lagi memotong jalurnya kendaraan lain, tak lagi berkendara di tempat yang tidak semestinya (jalur cepat), tidak lagi melawan arus…

I wish.

review: Mission Impossible 3

Monday, May 8th, 2006

Aaaarrgh! Parah! Film ini benar benar melanjutkan MI & MI-2… merusak pola yang sudah tertata baik. Ini bukan film tentang IMF, tetapi film tentang Ethan Hunt! Yang susah payah berusaha menyaingi James Bond, tapi gak mampu sendirian, jadi terpaksa minta bantuan teman-temannya.

oke, dosa terbesar MI adalah merusak nama baik Mr. Phelps, yang telah berulang kali menyelamatkan amerika. gw masih belum bisa memaafkan mereka untuk membuat Mr. Phelps menjadi penjahat.

Deviasi lainnya, no guns! hal ini yang membedakan layar lebar dengan serialnya. dalam serialnya yang kita sukai, IMF mendapatkan hasil melalui intricate lies and deceit. the series is about team, there’s no I in team. no guns, no live ammos. padahal lawan mereka adalah orang2 yang tak segan2 membunuh. the stake is high while the probability of success is bordering on nothing, thus the name, Impossible Mission Force.

di layar lebar, agen2nya tak beda dengan pasukan elit, bersenjata lengkap, jago beladiri, dan hanya butuh satu orang, yang lain hanya filler dan pelengkap penderita. agen2 IMF tak segan membunuh lackeys, tapi menangkap susah payah berusaha menangkap gembong kriminalnya.

Plotnya cheesy enough. kriminal memiliki akses ke "doomsday device", IMF harus mencegahnya, tapi ada mata-mata dalam IMF. sounds familiar? tentu…

"the devil is in details", di sini para penulis dan kru MI3 fails miserably. kenapa harus melompat dengan kemungkinan jatuh jika dapat jalan memutar?

Akhirnya dengan sangat menyedihkan, gw bilang penulis ceritanya sudah kehabisan akal dan kreatifitas. saatnya untuk mengakhiri serial MI di layar lebar. Terlalu banyak lubang-lubang yang tak dapat ditepis. kejadian2 tak beralasan yang tak masuk akal. Ingat, MI bukan tentang kejadian yang tak masuk akal, tapi bagaimana sekelompok manusia berupaya untuk membuat hal yang dirasa tak masuk akal menjadi kenyataan.

Mengapa bukan PDAphone?

Saturday, May 6th, 2006

Setelah gw  membeli  Dell Axim X3i+  yang  bukan PDAphone, banyak orang yang bertanya alasan gw untuk memilih membeli PDAsaja.

Gw pernah ngebahas sekilas di review awal Axim X3i+, tapi gw coba elaborate sedikit di sini.

  1. Harga. selisih antara satu PDAphone seharga dengan dua PDAsaja. padahal kemampuannya ya begitu-begitu saja (PDA-wise). sementara gw sudah punya mobile phone yang cukup mumpuni (yang potensinya pun belum berhasil gw maksimalkan)
  2. Baterei. begitu PDAphone mati, gw gak bisa ngapa-ngapain lagi. tapi dengan dua device yang terpisah, theoretically gw punya double operation time :)
  3. Ukuran. Gw gak tega untuk menempatkan device seukuran walkman jaman ke telinga gw untuk bertelefon. kalau PDAphone berukuran kecil, hmm… udah mahal, layarnya kecil? no thanks.
  4. SMS. Gw masih sering texting. dengan 6230i gw, gw masih bisa mengontrol jalannya mobil dengan tangan kanan di lingkar kemudia dan texting dengan tangan kiri (berbahaya, jangan dicontoh). Kalo make PDAphone? hmm… masih lama tampaknya…
  5. Pilihan. Gw masih pengen gonta-ganti mobile. sementara untuk saat ini gw gak pengen gonta-ganti PDA (kemampuannya ya segitu2 aja… belum ada lompatan teknologi baru tampaknya). Kalo gw beli PDAphone, maka gw akan stuck dengan benda itu untuk jangka waktu yang cukup lama.

Yah itulah dasar pemikiran gw tentang mengapa gw akhirnya memilih PDAsaja ketimbang PDAphone.

meski pada akhirnya gw pengen juga nyobain Treo650 CDMA… tapi nantilah… kalo punya rejeki lebih :D