Kamis kemarin gw bareng Adis (Hai Dis!) dan Astrid
(Hai Chiet!) akhirnya melakukan perjalanan bareng ke Bandung. Tujuan ini
merupakan hasil kompromi antara kami bertiga, tujuan-tujuan lain yang akhirnya
tidak dipilih untuk saat ini adalah Tanjung Lesung, Ujung Kulon, Anyer, dan
Lampung.
Bandung dipilih bukan hanya karena lokasinya yang
gak begitu jauh, tapi juga karena keakraban kami dengan kota Bandung dan
sekitarnya (minimal kami pernah tinggal 6 bulan di kota Bandung: Adis hampir
satu tahun (on and off), Gw 10 tahun (on and off), Astrid 23 tahun (on)).
Semangat kami untuk bepergian kali ini adalah Wisata Modelling dan Wisata
Kuliner.
Lokasi pemotretan pertama adalah: Kawah Putih,
Ciwidey.
Kami berangkat dari Jakarta tanggal 24 Mei 2006.
Titik awal perjalanan, pompa bensin Shell di Warung Buncit. Proses pengisian
bensin yang mestinya cepat, ternyata harus terhambat sedikit karena transaksi
dengan kartu kredit melalui terminal Bank Permata tidak berjalan mulus,
sehingga harus pembayaran offline.
Usai memenuhi bensin di mobil (07.00), Gw dan Adis
meluncur ke arah Bandung untuk keluar tol sejenak di Pondok Gede, bertemu
dengan Astrid yang diantar Yuri (Hai Yuri!), lalu langsung perjalanan non-stop
ke Bandung melalui Cipularang. Karena masih bingung dengan bagaimana mencapai
Kawah Putih dan gak yakin dengan ingatan gw (dari kami bertiga, baru gw yang
pernah ke Kawah Putih), jadi kami bertanya-tanya dengan beberapa pihak yang
kami temui. Sebagai native speaker, Astrid yang diberikan kepercayaan sebagai
penunjuk jalan.
Dari Tol Cipularang, keluar di gerbang tol Kopo,
belok kanan ke arah Ciwidey. Arahnya sebenarnya cukup ngikutin jalan. Jadi bagi
yang mau ke Kawah Putih, jangan khawatir, jalannya cukup jelas (meskipun jauh).
Di daerah Kopo, kami berhenti sejenak untuk memenuhi
panggilan alam, sarapan dan membeli film (not necessarily in that order) di
Borma Kopo. Tempat sarapan pagi itu adalah Mie Pak Oyen, kami memesan mie
kocok, teh botol, dan es campur.
Setelah cukup puas dengan makanan dan keinginan
untuk melontarkan komentar-komentar terhadap keadaan sekitar, kami melanjutkan
perjalanan. Jauh… Jauh… Jauh sekali. Melewati Kota Soreang (Ibukota
Kabupaten Bandung), perkebunan strawberry (stroberi petik sendiri, tampaknya
petaninya malas… hihihi), Hotel Selly, terus nanjak, sampai ketemu daerah
hutan seperti Puncak. Jangan berharap banyak dengan papan penunjuk yang
mengatakan “Kawah Putih 10 km”.
Kondisi jalan yang menanjak dan rusak akan sangat
berasa di kendaraan kecil (salah satu alasan kenapa gw gak milih si Kutu Ijo
untuk perjalanan kali ini), ground clearance dari Vitara terbukti membantu
untuk mengurangi resiko kerusakan di undercarriage. Jalan sempit (hanya untuk
dua mobil saling menyalip di perkotaan, dan 1,5 mobil di daerah hutannya) yang
ada tidak dibantu dengan adanya banyak kendaraan lambat dan santai dan
menyebalkan, seperti delman, bis yang gak kuat nanjak, dan motor-motor yang
sembarangan.
Akhirnya sampai di gerbang bawah Kawah Putih. Kami
membayar tiket masuk sebesar IDR 13500 (tiga orang, satu mobil, termasuk
asuransi kecelakaan untuk orang saja). Setelah berkelak-kelok untuk mencapai
lokasi sebenarnya, Alhamdulillah kami tiba di Kawah Putih yang banyak
pengunjungnya. Kami tiba di Kawah Putih jam 11.30, 189 km dari Mampang (berdasarkan
odometer di Vitara ’93 ban gede). Cuaca yang mendukung, dingin sejuk, tak
terlalu banyak matahari telah menyambut kami.
Ketika Adis dan Astrid mengantri pipis (dan
benar-benar mengantri, dengan perhitungan gw, sekira 10 menit terpakai untuk mengantri),
gw menulis catatan perjalanan ini, dan mempersiapkan peralatan perang. Untuk
diperhatikan, tidak ada provider GSM yang mencakup daerah ini. Untuk CDMA gw
gak bisa bilang, karena provider CDMA kami sama dan tidak terpikir untuk
menyalakan handset CDMA kami yang tak bisa digunakan sejak pindah kota.
Sedikit berjalan lagi, kami disambut dengan bau
khas belerang, dan pemandangan yang surreal. Jauhnya perjalanan terbayar kontan
dengan pemandangan tersebut. Tapi sejujurnya, tampak berbeda dengan ingatan gw.
Apa karena dulu tak sebanyak itu pengunjungnya, atau memang Kawah Putih
berubah?
Sesi pemotretan berlangsung di spot terbaik untuk
maksud itu. Begitu turun tangga, mengarah ke kiri, menghadap danau dan belahan
bukit. Gak akan salah. Setelah 100 frame berlalu dan rasa jenuh dan lelah (dari
tawa tiada henti) mulai merambat, kami memutuskan untuk berpindah lokasi.
Di jalan ke arah Bandung, ternyata kami kena
musibah, ditabrak motor. Motor ojek yang membawa penumpang seorang ibu dengan
anak balita-nya itu nyalip delman yg lg uphill dan langsung berkenalan singkat
dengan mobil gw. Dia jatuh dengan sukses, tapi alhamdulillah tidak ada korban
jiwa dalam insiden tersebut. Stepnya dia nyobek ban kanan depan gw. Walhasil gw
mesti ganti ban. Untungnya (teuteup…) kejadian terjadi tepat di depan toko
ban Harapan Jaya, jadi ada yang mbantuin dalam proses pergantian ban serep. Si
tukang ojek, meski menderita kerugian karena pedalnya bengkok karena jatuh,
teuteup gak mau dan gak mampu ngganti ban gw. Oh well.
Oh ya, jalan yang downhill dan berkelak-kelok dari
kawah putih hingga soreang memang menyenangkan untuk dibawa ngebut
sebenarnya… beberapa kali terjadi controlled loss of traction, hihihihi.
Untuk lunch, kami sulit menentukan pilihan, tapi
dicoba aja ke arah Dago, niatnya untuk melanjutkan sesi pemotretan ke daerah
atas. Awalnya kami mencoba ke Erla’s tapi kok ya ndak dapet parkir, jadi ya
meneruskan perjalanan ke Wale’. Wale’ ini adalah inkarnasi terbaru dari Warung
Mpok Lela, Ma’ Lela, atau Bakso Monyet. Sempat memutar-mutar sedikit karena
penanda jalan bagi Astrid udah berubah (toko material dan tukang jual gas).
Kami makan di paruh atas, karena paruh bawah tidak diperuntukkan untuk kelompok
kecil.
Sepulang dari santap siang di Wale’, ada kejadian
aneh, nakutin, tapi juga lucu. Sekitar 200m dari Wale’ , mobil distop cewe
berbaju biru membawa tas [astrid: yg isinya: pinsil butut nan item &
kertas2 kriting kaya bungkus kacang]. Dia pengen ikut sampe cigadung.
Lah, gw kan gak tau mana itu cigadung. Tapi ya gak
apa apa gw pikir, karena memang lokasinya yang sepi angkot dan itung2 nolongin
orang (gw butuh banyak doa) toh gw bertiga. Naiklah dia di kursi belakang,
bareng Astrid. Tyt aneh.. Dia GILA!!!
[Astrid:]
Nganggep klo kita itu tmn akrab dia apa! Pake acara
minta dianterin ke cikutra, padahal kita mau ke Dago Pakar!! Udah gitu sok-sok
curhat, pake acara jangan bilang siapa-siapa klo dia itu punya sodara gila yg
mengancam keutuhan keluarga dia gt… Pls deh… Like we care!! ;p tiba2 dia
ikut-ikutan ketawa klo kita lagi ketawa, terus nanya-nanya dimana tempat kos yang
murah.. Di Jatinangor aja!! [saran anwar loh] Pake acara sok2 ngaku2 guru lg!!
Gw ga yakin dia itu guru, mgkn juga seh guru, tapi guru ilmu hitam! Udah gitu paling
gila lagi dia sempat ga mo turun, karena belum nyampe ke tujuan dia.
[Anwar:]
Jadi karena kita mau ke THR Juanda, kita mau belok
kanan nih, tapi si mbak ini bilang kalo belokannya di depan lagi (padahal
Astrid udah seyakin-yakinnya kalo belok kanan sekarang). Begitu gw belok kanan,
si mbak itu bilang “emm, mau main ya? Boleh ikutan gak? Udah terlanjur juga…”
gitu… hiiiy…
[Astrid:]
Mana begitu dia turun kita ga cek kalo kakinya
nginjek tanah ato engga huehehe suerem!!! Abis begitu kita balik ketempat
nurunin dia.. Dia dah ilang, tukang ojekpun males kali ya…
[Anwar:]
Setelah itu kami ke Cihampelas Walk, ternyata
sepi2 rame. Parkiran penuh, tapi nggak gitu rame di mall nya sendiri. Setelah
muter-muter dan liat pernak pernik yang dijajakan, kami nongkrong lama ngobrol
dan haha-hihi di Starbucks sebelum akhirnya ngantri donut di j.co.
Puas di Ciwalk, kami berpindah ke Sierra demi
meng-abuse "Enjoy 30"-nya Adis. Waktu ngeliat menunya, kok mirip dgn Tomodachi…
Tapi lebih murah. Setelah pesanannya datang, semua jelas sebabnya. Ternyata yang
di Sierra porsi kids meal! Kecil bener… Hiks hiks…
Rasa kantuk mulai menyeruak. Jahe madu panas yang
gw pesan mulai berasa dingin, dan akhirnya kami memutuskan untuk memanggilnya
malam (call it a night).
Kami menuju rumahnya Astrid untuk bermalam.
Ternyata rumah Astrid itu ada di jalan yang sering banget gw lalui… di
Turangga, depan fotokopian. [Astrid: iya, sering banget pada ngomong gitu]. Jam
23 kami tiba di rumahnya, dibukakan pintu sama Mamanya Astrid.
Nyampe rumah Astrid, gak langsung tidur, disuguhin
pudding dan kue-kue, lalu nonton Kill Bill vol. 2, dan ngobrol-ngobrol ngitung
keuntungan YM-an via GPRS ketimbang SMS. Hihihi. Jam 1 pagi baru kami pergi ke
peraduan.
Bersambung ke vol. 2