media yang kebablasan

ada yang ngeliat berita sore kemarin (28 Februari 2006)? lebih tepatnya RCTI.

di situ ada berita tentang tes CPNS. yang diangkat adalah masalah joki dan sangkaan joki.

ada perempuan yang disangka joki karena fotonya tampak berbeda dengan aslinya. di foto tersebut si mbak gak pake jilbab dan kacamata, sedang di kehidupan asli, si mbak make jilbab dan kacamata.

diberitakan bahwa akhirnya si mbak dibawa ke ruang terpisah dan membuka jilbab dan kacamatanya di depan petugas perempuan untuk membuktikan identitasnya.

and here’s the catch: ketika si mbak membuka jilbabnya, si wartawan (at least camerapersonnya) ada di situ, dan merekam adegan tersebut. lebih gilanya lagi, footage tersebut disiarkan nationwide (kalo gak worldwide).

jadi ada dua kesalahan besar bagi gw mengenai media. Udah jelas salah si camera person untuk merekam private moment tersebut, ditambah lagi redaksi gila  yang mengizinkan footage itu disiarkan.

insiden itu juga nunjukin satu hal, kesalahan pakem bahwa foto identitas harus kelihatan dua kuping dan jangan make kacamata (alasannya takut mantul). tapi itu hal lain lagi.

3 Responses to “media yang kebablasan”

  1. Diyah Says:

    Aku ndak lihat siaran beritanya, sih. Tapi kalau memang kejadiannya begitu ya disayangkan banget lah.
    Ada protes tentang liputan itu nggak ?

  2. Fajar Says:

    KPI gak punya gigi…
    sering banget pers kita cuma ngejar ‘hot journalism’

    pernah korban perkosaan diwawancara, dan keluarga korban pembunuhan/kecelakaan…pertanyaannya “bagaimana perasaan Ibu/Mbak/Bapak tentang kejadian ini?” (what the f@c*) memangnya perasaannya kira2 gimana….

    Terus korban Tsunami juga sama…pokoknya kayanya pers kita haus berita dan rela mengorbankan hak asasi dan kesehatan mental orang lain deminya

    Darimana kita harus menata semua ini ya…so little time so much to do

  3. Erwin Says:

    (Bukan membenarkan perbuatan mereka ya..)

    Jaman sekarang wartawan udh kayak supir angkot, ngejar setoran. Persaingan antar media smakin ketat.. Gaji kecil.. Kesejahteraan rendah.. Untuk beberapa yg ga kuat iman satu2nya jalan ya bikin berita yg vulgar & berdarah2 karena itu yg bikin laku.. (laku kalangan tertentu, krn gw ga akan pernah nonton & beli kyk gituan).

    Beberapa mungkin tau bahwa itu salah & ga mendidik tapi demi “setoran” itu ya tetep aja dikeluarin. Sebagian lagi emang murni ga tau bahwa itu salah karena kurangnya pendidikan etika jurnalistik..

Leave a Reply