fenomena push email (blackberry anyone?)

March 22nd, 2007 by antos

Blackberry adalah sistem komunikasi data wireless yang memungkinkan penggunannya menerima e-mail secara langsung di handset yang mendukungnya (push-mail). kehebatan utamanya terdapat di sistem kompresi datanya. sehingga data yang digunakan untuk lalu lintas e-mail dan sejenisnya menjadi sangat kecil. (ini penjelasan singkat yang sering gw pake kalo ditanya soal blackberry).

menurut wikipedia:

The BlackBerry is a line of wireless handheld devices introduced in 1999 which support services such as push e-mail, mobile telephone, text messaging, internet faxing and web browsing. Developed by the Canadian company Research In Motion (RIM), the BlackBerry usually sends and receives information via the wireless data networks of mobile phone companies, though some devices are Wi-Fi compatible.

fenomena blackberry di Indonesia mencuat baru dua bulan terakhir ini. Ditandai dengan dipasarkannya paket penjualan blackberry "murah" oleh XL. Dengan 199 ribu per bulan, pengguna dapat kuota 25 Mb yang dapat dipergunakan untuk browsing, kirim dan terima e-mail, chat dengan mobile. Angka 25 Mb mungkin membuat banyak orang sangsi, apa iya cukup untuk sebulan, ternyata oleh para penggunanya dinyatakan lebih dari cukup. tak ada habis-habisnya kuota tersebut, hal ini disebabkan kompresi yang dimiliki oleh Blackberry tersebut.

XL memang bukan yang pertama memasarkan blackberry di Indonesia, Telkomsel sudah terlebih dahulu, tetapi tidak bermain di pasar pengguna individu hanya korporat. sedangkan paket penjualan Indosat jauh lebih mahal dari XL, 400 rb rupiah per bulan (lalu ada penyesuaian tarif, sehingga comparable dengan XL). Kelemahan penjualan oleh XL, adalah tidak adanya dukungan untuk non-RIM handsets. XL tidak menerbitkan software Blackberry connect yang memungkinkan wireless devices untuk berhubungan dengan server blackberry di kanada sana.

Awal munculnya blackberry, gw tertarik sekali untuk menggunakannya. tapi kenyataan bahwa XL tidak mengizinkan non-RIM clients untuk blackberrynya membuat sulit merealisasikan keinginan tersebut. Lalu handsetnya sendiri masih sulit didapat, Handset yang diusung XL masih mahal, 6,2 juta, sedang handset refurbished unlocked tipe 7290 masih sekitaran 2 juta.

Akhirnya gw mencoba alternatifnya, yaitu push email memanfaatkan fasilitas IMAP idle nya AIM (beda dikit sama RIM, hehehehe). Memang seru, begitu e-mail diterima di mailbox, langsung dikirimkan ke handset. jadinya gw bisa nerima e-mail kapanpun di manapun. solusi murah. andaikan setiap orang yang gw kenal sudah beralih ke push-mail enabled devices. tapi sayangnya ya itu… belum.

Nokia 9300 nya Noni belum mendukung IMAP idle, bahkan tidak bisa scheduled retrieval of mail. jadi e-mail belum bisa dijadikan komunikasi utama antara gw dan Noni. Keluarga gw juga belum ada yang menggunakan device sejenis. teman kantor pun begitu. Kebutuhan akan e-mail di kantor pun sangat-sangat terbatas. Kantor masih mengandalkan push mail versi jaman belanda. Nota ditulis, dikirimkan lewat kurir. itu pun kadang-kadang harus di pull menggunakan telefon internal :D

Oh, dan satu lagi yang akhirnya membulatkan tekad gw untuk tidak berblackberry ria. Gw ke mana-mana masih nyetir sendiri. meskipun gw bisa nerima e-mail seketika, tetapi tidak bisa gw baca pada saat itu, dan tak bisa gw bales saat itu pula.

so, blackberry is definitely not the answer to all of life’s problems. mungkin nanti, di saat handsetnya (murahnya) mulai banyak di pasaran, dan kantor gw mulai belajar untuk menggunakan e-mail. tapi saat ini, dia juga bukan jawaban dari pencarian solusi komunikasi murah gw.

Menembak

March 6th, 2007 by antos

saat pertama dan terakhir gw menggunakan senjata api, itu waktu pelatihan dulu. Menyenangkan rasanya, karena tentunya dari dulu pernah punya angan-angan untuk melakukannya.

Yang gw inget, gw berfikir "i have, in my hand, the power to take a life". The small thing (gw make pistol buatan pindad, government issue lah :)) mayan berat di tangan. unreliable (after continuous shooting session (100 bullets, more or less), banyak yang jammed). Still, it packs quite a punch.

Menarikmya, adalah bagaimana menembak itu gak perlu eyesight yang bagus. mata gw defective at best, terakhir ke optik, minus 5 gitu… gw gak make contacts atau glasses. tapi berhasil dapet skor yang mayan.

Harus ada pembiasaan. karena gak ada senjata yang perfect. seperti di "full metal jacket" (atau tepatnya di USMC) "this is my rifle, there are many like it, but this one is mine." setiap senjata api punya karakteristiknya sendiri. hanya dengan penggunaan dan latihan yang rutin si pengguna bisa memperkirakan ke mana arah peluru. dalam kasus latihan itu, kami diberikan kesempatan tiga kali menembak, untuk bisa mengukur dan memperkirakan itu. gw kebetulan dapat pistol yang pelurunya bergerak ke kiri bawah. jadi gw adjust fisirnya ke kanan atas.

Ini yang membuat para penembak jitu itu luar biasa. di saat gw punya seluruh magazine untuk dihabiskan ke arah target gw, dia hanya perlu (dan harus) menggunakan satu peluru.

Treo at last.

January 29th, 2007 by antos

Gw mulai tertarik sama yang namanya palm powered devices sejak jaman dahulu kala (2000 awal kali yah?) Bolak balik mondar mandir di depan gerai toko yang ngejual handspring visor. Waktu itu harganya comparable dengan Nokia 8210, tapi tetep aja gak kebeli sama gw (keburu beli Nokia 6210).

Dari 6210 gw akhirnya pindah ke 6230i. meski sempet mendua dengan Nokia 7110. Ternyata meskipun fitur-fiturnya oke… gw simply out of luck dengan 6230i itu. Banyak banget masalahnya (yang tidak terselesaikan, huh). Akhirnya ditambahin Dell Axim X3i+ dengan pertimbangan yang pernah gw tulis sebelumnya.

Gak berapa lama make X3i+ paired with Ericsson T39m (selagi 6230i ganti mesin), denger dari Mas Didik, kalo Palm itu makenya gampang banget, jauh kalo dibandingkan dengan PPC devices. Hemm… jadi inget treo. Memang belum pernah pegang langsung, cuman inget Bang Ronal pernah make (Treo 600 atau 650 ya Bang?).

Berapa kali bolak-balik en muter-muter di ambassador, sempet ketemu dengan used treo 650… mulus… harganya juga reasonably priced. tapi ya belum ada budget.

Sampe turning point-nya, N6230i nya bener-bener nyebelin… Cuma masalah lain timbul. 3G! Pilihan makin berkembang. Sempet pengen make E61, cuma ketiadaan kameranya itu bener-bener ngganggu. M600i, wah… cakep sih iya… cuman ya itu… cameraless en memory stick nya mahal abbesssh. Treo? Wah, yang 3G enabled masih kisaran 6 juta. Belum berani.

Akhirnya setelah ngobrol sama Jane, Dandy, Wulan, n Luke. Akhirnya kuputuskan untuk make Treo 650 :) Harga bekasnya sih udah mayan turun sejak masuknya Treo 680. Plus I’ve got a pretty good deal. jadi gak begitu sakit rasanya :)

Transisi dari NokiaOS + WM2003SE menjadi PalmOS cukup mudah. Yang harus diingat adalah PalmOS gak multitasking (mirip sama NokiaOS).

Pengalaman gw make Treo 650 selama dua minggu (kayaknya :))) menyenangkan. Baterenya tahan lama: beda banget sama N6230i gw… huh. even compared to the X3i+, the treo is still the winner. Make X3i+ untuk online dengan agile mobile hanya kuat untuk dua jam. sementara treo 650 yang sudah dipakai selama 2 jam online pake mundu, berkali-kali narik e-mail, usual quota of texting and calling, saat ini (17 jam dari gw cabut dari listrik) masih tersisa 35% power lagi). Layar yang jauh lebih besar tapi resolusi yang sama. Kamera yang hasilnya comparable, meski "hanya" VGA. Full qwerty thumbboard.

Pengaturan untuk e-mailnya sangatlah mudah. Gw baru make bawaannya, "versamail", dan dalam sekejap sudah bisa kirim dan tarik dari CBN dan Gmail. Jadi inget pengalaman setting e-mail di E61 (Hai Dan :D). Konek GPRS juga mudah banget… apa karena gw make XL yah? Kemaren nyobain setting di N6280 dan N9500 sama-sama ribet dan gak sukses (apa karena make indosat? ;)).

Ketiadaan WIFi bukanlah sesuatu hal yang penting bagi gw. X3i+ WiFi enabled, tapi ya masih sangat jarang hotspot di Indonesia ini. apalagi yang gratis. Alhasil, hampir gak pernah gw make WiFi.

Sekarang lagi nunggu perkembangan terbaru… untuk blackberrying di treo 650. apakah mungkin terjadi? Salah satu alasan gw milih Treo 650 adalah blackberry connectivity lewat "blackberry connect". Tapi tampaknya XL belum mengijinkannya. Oh well… harus pake alternatif lain tampaknya untuk push-mail.

So, Treo at last. dan gw pikir (saat ini), kalo gw ganti handset setelah ini, sepertinya gak akan jauh dari Treo (kalau nambah sih ya bisa aja keluaran lain… RIM kali yah ;))

Kecap, Saus, dan Sambal

January 10th, 2007 by antos

Kecap, Saus dan (Saus) Sambal, pernak-pernik meja makan yang tidak pernah absen di restoran/tempat makan di Indonesia. Baik dari restoran makanan continental, oriental, gerai fast food, pinggir jalan, sampai di dalam rumah.

Gw pribadi memilih untuk tidak menggunakan ornamen tersebut, dengan pemikiran akan merusak cita rasa yang sudah disiapkan sang peracik makanan. Kalau sang peracik merasa sajiannya harus ditambahkan kecap, saus, atau sambal, niscaya dia akan menyajikannya lengkap dengan kecap, saus, atau sambal yang telah sesuai takaran yang seharusnya.

Pemikiran yang sama membawa gw ke sebuah pengharapan, bahwa ketika suatu saat nanti gw memasak, gw gak mau penikmat masakan gw meminta untuk menambahkan kecap, saus, atau sambal, karena artinya, masakan gw gak enak, dan harus ditambahkan ornamen-ornamen tersebut untuk membuatnya mampu melewati indra pengecap (membypass rasa seharusnya dengan memasukkan rasa ekstrem, asin, manis, atau pedas).

Kecap, Saus, dan Sambal di pemikiran gw, bisa disamakan dengan Mono Sodium Glutamat, atau vetsin. yang bukannya berfungsi sebagai penyedap rasa, melainkan pencampur/perusak rasa.

Playboy Indonesia: sebuah majalah

December 12th, 2006 by antos

Semenjak isu Playboy Indonesia akan diterbitkan hingga dua minggu lalu, gw sama sekali belum pernah melihat seperti apa isinya. Gw yakin gak akan berani untuk menyamai induk majalahnya. Seinget gw majalah Playboy adalah majalah lifestyle, hanya saja disajikan dalam bentuk lain. Kualitas foto-foto yang terpampang adalah papan atas, baik dengan maupun (atau terlebih ) tanpa busana.

Dua minggu lalu akhirnya gw membeli majalah versi Indonesia. di lampu merah, setelah mengetahui harganya 50.000 IDR. Harga sebuah keingintahuan.

Pertama kali gw dikejutkan dengan kualitas kertasnya, terlalu mudah kusut. Lalu dari foto-foto di dalamnya, so sad, gak ada bagus-bagusnya. Pose-pose modelnya ganggu, dan mengesankan tabloid murahan namun pura-pura bagus.

Isi artikel? Menyedihkan. ada wawancara dengan Kaka Slank (pliss deh… gak ada yang lebih menjual apa? - no offense bagi para Slankers, tapi realistis laah…) yang menghabiskan 6 halaman full text, minim foto. Dan ada wawancara dengan Christian Sugiono tanpa fotonya sama sekali. Ackk… majalah apa ini? Dan perlu diingat, ini adalah majalah yang seharusnya untuk pria… peduli apa kami dengan Christian Sugiono? hemm?

Kesimpulannya… 50.000 IDR adalah harga yang sangat mahal untuk kualitas majalah semenyedihkan ini. Tak pantas ia menyandang nama Playboy.

data backup

November 12th, 2006 by antos

it happened again.

all of a sudden partisi C gw ngadat. ngilang.

mesti install ulang. semua data2 (yang gw yakin udah gw pindah ke partisi lain, eh ternyata tidak. hilang semua). backup terakhir, bulan april, waktu gw pindah harddisk (setelah sebelumnya ngadat juga).

mesti cari motherboard lain, processor, the whole damn thing.

mesti pindah ke RAID.

bete.

review: fast and furious, tokyo drift

November 4th, 2006 by antos

akhirnya gw nonton film ini di DVD. Waktu tayang di bioskop, gw gak punya hati untuk menontonnya, karena gw yakin seyakin-yakinnya bahwa pasti parah.

Gw seneng mobil, gw seneng nyetir, dan gw seneng drifting sejak pertama kali nonton initial D. Nah, semangat tersebut sama sekali tidak gw temuin di film ini.

Para pembalap di film ini, sama sekali tidak punya respek terhadap mobil mereka. Sangat menyedihkan. It’s a crime! ngeliat silvia, evo, yang dibenturkan dengan benda-benda lain, membuat gw menjerit ketika menontonnya (ini bukan melebih2kan…).

On the upside, the legendary hachiroku disebut2 di film ini, juga tampil di salah satu scene. Dorii King yang asli juga tampil sebagai cameo.

Dari segi filmnya, dialognya parah, story-nya parah. sama sekali gak make-sense.

Bottomline: orang yang membuat film ini seharusnya dipenjara atas kejahatan terhadap mobil.

Ponsel di pesawat

October 8th, 2006 by antos

penggunaan ponsel selama perjalanan dengan pesawat telah disepakati oleh maskapai penerbangan sebagai sesuatu hal yang diharamkan. Dengan alasan akan mengganggu komunikasi antara pesawat dengan menara. Meskipun masih terdapat teori-teori lain yang menyatakan bahwa penggunaan ponsel selama perjalanan dengan pesawat adalah aman dan alasan utama penggunaannya dilarang adalah dari segi bisnis, karena akan merugikan maskapai yang menyediakan fasilitas telefon umum di armadanya.

Posisi pribadi gw adalah penggunaan ponsel dalam pesawat *tidak* mengganggu jalur komunikasi antara pesawat dengan bandara, alasannya, akan sangat memalukan kalau produsen pesawat tidak memperhitungkan penggunaan ponsel di dalam pesawat, toh jalur komunikasinya pun sudah pasti berbeda kanalnya. Namun, karena belum ada bukti konklusif, gw tidak akan menggunakan ponsel gw kecuali ada kejadian yang sangat-sangat memerlukannya.

Dalam perjalanan menggunakan maskapai adam air kemarin, ada seorang penumpang, dua row di depan gw yang tetap menggunakan ponselnya meskipun pramugari telah berulang kali memperingatkannya untuk mematikan ponselnya karena pesawat telah memulai komunikasi dengan menara. Walhasil banyak penumpang yang turut serta dalam meneriakkan "himbauan" agar sang pelaku segera mematikan ponselnya, termasuk gw. Ketika akhirnya dia mematikan ponselnya, pramugari masih memastikan bahwa ponsel orang itu telah dimatikan.

Gw turut menghimbau orang itu, karena gw yakin dia gak mempunyai dasar mengenai perbuatannya. dia hanya enggan mematikan telefonnya karena sedang berbicara. kadangkala penyelesaian paling mudah adalah mengikuti apa pandangan yang berlaku umum. terutama ketika yang menjadi masalah bukan hal-hal prinsip.

tercapainya sebuah angan

September 30th, 2006 by antos

Sudah lama gw punya sebuah keinginan, hasrat, untuk melakukan sesuatu hal yang meskipun mudah, namun sukar dilakukan apabila tidak dalam waktu dan tempat yang memang untuknya.

hal itu adalah memakan daging buah semangka langsung dari kulitnya. Apa hebatnya? Hmm… bedanya, kali ini adalah buah semangka bulat itu, dipotong seperempatnya… dan langsung dinikmati :D

Dan benda itulah yang menjadi pembuka puasaku hari ini. Seperempat buah semangka kuning. Dimakan langsung tanpa bantuan alat perkakas buatan manusia. Setidaknya sampai sulit bagi diriku untuk menjangkau bagian bawah dekat kulit, baru aku menggunakan alat bantu pisau.

hasilnya… kepuasan :D

Review: Snakes on a Plane

September 9th, 2006 by antos

Barusan gw n Noni nonton Snakes on a Plane (SOAP). Terdapat dua alasan kenapa kami memilih untuk nonton film ini

  1. 1. Samuel L. Jackson
  2. 2. Gak ada pilihan lain.

SOAP adalah film formula mengenai sekelompok manusia yang terjebak dalam suatu keadaan berbahaya yang luar biasa. Alien(s), Turbulence(s), Undersiege(s), Daylight, Dante’s Peak, Airplane!, semua jatuh dalam kategori yang sama. Seasoned moviegoers akan segera mengenali siapa yang akan selamat, dan siapa yang akan menyumbangkan darahnya demi "kegembiraan" penonton.

Yang membuat SOAP sedikit berbeda adalah … mmm … Jackson? :D dan ular-ular. Keadaan yang sungguh diluar pikiran, namun sangat mungkin terjadi. ("ular adalah binatang berdarah dingin, sehingga tidak tampak di pemindai").

Oh, film ini bisa dikategorikan sebagai "bruised-forearm" movie. You’ve been warned.